Riau

Umat Kristen Tak Cukup Jadi Penonton, Forum Transformasi Kota Digelar di Pekanbaru

290
×

Umat Kristen Tak Cukup Jadi Penonton, Forum Transformasi Kota Digelar di Pekanbaru

Sebarkan artikel ini
Special Forum Discussion Group bertema “Transformasi Kota” di Hotel The Zuri, Pekanbaru, Senin (31/8/2026)

PEKANBARU, ALARAM.CO – Ratusan peserta dari berbagai elemen dan lembaga Kristen berkumpul dalam Special Forum Discussion Group bertema “Transformasi Kota” di Kota Pekanbaru, Senin (31/8/2026). Forum tersebut menjadi ruang bersama untuk membangun sinergi dan merumuskan kontribusi umat Kristen dalam pembangunan kota.

Kegiatan yang digelar di Hotel The Zuri Pekanbaru, Kompleks Transmart, Jalan Soekarno-Hatta, tersebut berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Forum menghadirkan Ps. Dr. Yonathan Wiryohadi, Founder of World Transformation Center, sebagai pembicara.

Kegiatan tersebut diselenggarakan bersama oleh sejumlah lembaga Kristen, di antaranya BICC Church, FGBMFI Indonesia, Badan Kerja Sama Gereja-Gereja Riau (BKGR), Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI), dan PIKI, bersama unsur lembaga Kristen lainnya.

Ketua Forum Komunikasi Lembaga Kristen (Lemkris), Anggara Butar-Butar, mengatakan forum tersebut dibentuk sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi berbagai lembaga Kristen untuk bersama-sama mengambil bagian dalam membangun kota.

“Umat Kristen harus punya warna tersendiri di mana kita tinggal. Jadi forum ini kita bentuk sebagai forum komunikasi lembaga-lembaga Kristen, pengumpulan dari semua lembaga aras dan juga lembaga-lembaga Kristen yang ada, yang berkumpul, bersatu untuk membangun sinergitas dan bekerja sama dalam membangun kota di mana kita berada,” kata Anggara.

Menurutnya, forum diskusi tersebut tidak hanya digelar sekali. Kegiatan serupa akan dilakukan beberapa kali dengan konsep kolaborasi untuk membahas berbagai isu yang berkembang di Kota Pekanbaru maupun Provinsi Riau.

Forum tersebut melibatkan lembaga aras gereja, tokoh-tokoh gereja, serta berbagai lembaga Kristen yang ada di Kota Pekanbaru. Anggara menegaskan, tujuan utamanya adalah membangun kolaborasi dan mewujudkan persekutuan di antara elemen-elemen tersebut.

“Tujuannya kolaborasi, bagaimana mewujudkan persekutuan. Kita membicarakan isu-isu yang dialami oleh gereja, baik itu juga oleh jemaat, dan juga mungkin ada masalah-masalah yang bisa kita kembangkan dengan pemerintah daerah atau pemerintah kota di mana kita tinggal,” ujarnya.

Dengan adanya persatuan tersebut, kata Anggara, diharapkan berbagai persoalan yang dihadapi dapat dibahas bersama sehingga menghasilkan alternatif solusi dan kesepakatan.

Sementara itu, Ketua Badan Kerja Sama Gereja-Gereja Riau (BKGR), Ps. Dr. Ricky Nelson Tampubolon, menjelaskan gagasan forum tersebut berawal dari pertemuan Badan Kerja Sama Gereja-Gereja Riau dan dilanjutkan dengan lokakarya yang mempertemukan berbagai lembaga Kristen.

Dari rangkaian pertemuan tersebut, lembaga-lembaga Kristen kemudian bersepakat untuk bergerak bersama hingga akhirnya dideklarasikan Forum Komunikasi Lembaga Kristen Riau.

Ricky mengatakan, BKGR sendiri telah hadir selama sekitar 50 tahun di Riau. Setelah forum komunikasi tersebut dideklarasikan, ia melanjutkan kepemimpinan BKGR sebagai ketua umum untuk periode yang baru.

Dalam prosesnya, para pengurus juga bertemu dengan wali kota untuk mendapatkan pemaparan mengenai kondisi Kota Pekanbaru. Dari pertemuan tersebut, muncul dorongan agar umat Kristen tidak hanya menikmati kehidupan yang nyaman dan diberkati di kota, tetapi juga memberikan kontribusi bagi kota.

“Kita sebagai umat Tuhan tidak hanya merasakan nyaman dan diberkati di kota ini, tapi kita juga menjadi berkat bagi kota ini,” kata Ricky.

Menurut Ricky, forum ini bukan organisasi baru, melainkan wadah diskusi untuk mendorong transformasi Kota Pekanbaru. Karena itu, pembahasannya diarahkan pada langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan bersama.

Dalam kegiatan tersebut, Ps. Dr. Yonathan Wiryohadi dihadirkan karena dinilai memiliki pengalaman dalam praktik transformasi kota. Ricky menyebut pengalaman tersebut menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi peserta forum dalam melihat kemungkinan langkah yang dapat diterapkan di Pekanbaru.

Ia mengatakan, berbagai bentuk pelayanan dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari pengalaman transformasi yang dipaparkan, mulai dari pelayanan kesehatan hingga pengembangan usaha masyarakat melalui peternakan, perkebunan, dan perikanan.

“Tujuan utamanya untuk menghasilkan langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan untuk memberi dampak, kemudian bergerak, lalu berbuah. Berdampak, bergerak, berbuah,” ujar Ricky.

Ia menekankan bahwa kontribusi umat Kristen tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Menurutnya, langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama tetap dapat memberikan dampak bagi masyarakat dan mendukung pemerintah dalam membangun daerah.

“Memang pemerintah punya tanggung jawab, tapi kita sebagai gereja mendukung pemerintah. Kita mendukung kota, pemerintahan, provinsi. Apa yang bisa kita lakukan, mungkin kelihatannya kecil, tapi semua juga dimulai dengan langkah kecil,” katanya.

Melalui Special Forum Discussion Group bertema “Transformasi Kota” ini, ratusan peserta selanjutnya mengikuti pembahasan dalam sejumlah kelompok diskusi. Mereka membicarakan gagasan dan langkah yang dapat dilakukan secara bersama-sama sebagai bentuk kontribusi umat Kristen bagi Kota Pekanbaru.

Ricky menegaskan, forum tersebut merupakan gabungan berbagai elemen dan lembaga Kristen. Harapannya, kolaborasi yang dibangun tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat dilanjutkan melalui gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi Kota Pekanbaru. (AH)