Riau

Puncak HUT Emas BKGR, Podcast “Sejarah dan Kiprah BKGR” Ungkap Perjalanan 50 Tahun Pelayanan dan Persatuan Gereja di Riau

508
×

Puncak HUT Emas BKGR, Podcast “Sejarah dan Kiprah BKGR” Ungkap Perjalanan 50 Tahun Pelayanan dan Persatuan Gereja di Riau

Sebarkan artikel ini
PODCAST HUT-50 Tahun BKGR 50LID

PEKANBARU, ALARAM.CO – Menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Badan Kerja Sama Gereja-Gereja Riau (BKGR), jajaran pimpinan BKGR bersama para pemimpin aras gereja menggelar podcast bertajuk “Sejarah dan Kiprah BKGR” pada Senin malam, 1 Juni 2026, di Hall Lantai 3 Gereja BICC Pekanbaru.

Kegiatan yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube BKGR Riau dan Pdt.Dr. Ricky Nelson Tampubolon itu dipandu oleh Megawati. Podcast tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang BKGR sekaligus memperkuat komitmen persatuan gereja-gereja di Provinsi Riau menjelang puncak peringatan HUT Emas BKGR.

Dalam kesempatan itu, para pemimpin aras gereja memaparkan sejarah keberadaan organisasi masing-masing di Provinsi Riau.

Perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Pdt. Rikson Sitorus, menjelaskan bahwa organisasi tersebut telah hadir sejak tahun 1963 dengan nama Dewan Pentakosta yang kemudian berubah menjadi PGPI pada dekade 1980-an.

“PGPI di Riau mulai dari tahun 1963 yang bernama Dewan Pentakosta, kemudian berubah menjadi PGPI atau Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Pdt. Bernadus Pardede menyampaikan bahwa PGLII Provinsi Riau berdiri pada tahun 2000 dan saat ini beranggotakan 26 sinode serta enam lembaga pelayanan Injili.

Dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dijelaskan bahwa pekabaran Advent masuk ke Indonesia melalui Padang dan kemudian berkembang hingga diresmikan keberadaannya di Pekanbaru pada 5 Desember 1990.

Perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja Tionghoa Indonesia (PGTI), Sam Sun, menerangkan bahwa PGTI secara nasional mulai berkembang sejak 1998 dan resmi menggunakan nama PGTI pada 2007. Setahun kemudian, kepengurusan wilayah Riau dibentuk.

Sementara itu, Harry Rau yang mewakili Pastor Alexius Sudarmanto dari Gereja Katolik menjelaskan bahwa pelayanan Gereja Katolik di Provinsi Riau telah dimulai sejak tahun 1952.

Menurutnya, pada masa awal, pelayanan Katolik difokuskan kepada para pekerja Caltex Pacific Indonesia (CPI) yang sebagian besar merupakan tenaga kerja asing. Adapun Paroki Santa Maria Pekanbaru berdiri pada tahun 1954.

“Keterlibatan Gereja Katolik dalam BKGR sudah sejak awal berdirinya pada tahun 1976 dan hingga saat ini tetap menjadi bagian dari kebersamaan tersebut,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa Gereja Katolik di Riau berada di bawah Keuskupan Padang yang mencakup tiga kevikepan, yakni Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Mentawai. Saat ini terdapat 13 paroki dan tiga calon paroki di Provinsi Riau.

Dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Sugiyanto S.Th., menyampaikan bahwa PGI secara nasional lahir pada era 1950-an dan mulai berkembang di Riau sekitar tahun 1980-an. PGI memiliki visi mewujudkan gereja-gereja di Indonesia yang relevan, berpengharapan, dan bersatu dalam semangat oikumenis demi menghadirkan kesaksian Kristen yang nyata di tengah masyarakat.

Pada sesi berikutnya, Penasehat BKGR Pdt. Rikson Sitorus memaparkan sejarah berdirinya BKGR yang resmi lahir pada 1 Juni 1976.

Ia menjelaskan bahwa BKGR berawal dari pergumulan dan penderitaan yang dialami sejumlah gereja pada masa itu. Kondisi tersebut mendorong para pemimpin gereja untuk bersatu membentuk wadah kebersamaan guna memperjuangkan pelayanan dan kehidupan beragama yang lebih baik di Provinsi Riau.

“BKGR dimulai pada 1 Juni 1976 dengan enam gereja sebagai pendiri. Lahirnya BKGR berasal dari pergumulan gereja yang cukup berat saat itu. Dari situ muncul gagasan untuk membentuk wadah bersama agar gereja-gereja dapat duduk bersama, berdialog, dan bekerja sama melayani Tuhan di Provinsi Riau,” ungkapnya.

Enam tokoh gereja yang dikenal sebagai pelopor atau pendiri BKGR tersebut berasal dari Gereja Katolik, Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI), Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA), dan Gereja Bethel Indonesia (GBI).

Menurut Pdt. Rikson, pada masa awal berdirinya, BKGR menjadi satu-satunya wadah yang mampu menghimpun berbagai gereja karena keberadaan aras-aras gereja lainnya masih sangat terbatas. Keterlibatan banyak aras gereja dalam BKGR mulai berkembang pesat sekitar tahun 2000-an.

Ia juga menilai bahwa keberadaan BKGR telah memberikan dampak positif bagi kehidupan gereja di Riau.

“Hampir selama 50 tahun, kegiatan Natal Agung dan Paskah tidak pernah terputus. Pemerintah juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan BKGR. Itu menunjukkan bahwa BKGR telah menjadi mitra yang baik dalam membangun kehidupan keagamaan di Provinsi Riau,” katanya.

Penasehat BKGR, Pdt. Rikson Sitorus, menjelaskan bahwa sepanjang 50 tahun perjalanan organisasi tersebut, kepemimpinan BKGR telah dipercayakan kepada sejumlah tokoh gereja dari berbagai denominasi. Ketua pertama BKGR adalah Pdt. M.S.J. Sibarani dari Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI).
Kepemimpinan BKGR kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Tambunan dari HKBP, disusul Pdt. Takoi, S.Th. dari GPIB, kemudian Pdt. Simangunsong dari HKBP Kota Pekanbaru.

Setelah itu, kepemimpinan BKGR dipercayakan kepada Pastor Konseng dari Gereja Katolik. Namun, di tengah masa kepemimpinannya, beliau jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia sehingga kepemimpinan diteruskan oleh pengurus lainnya.

Selanjutnya, BKGR dipimpin oleh Pdt. J. Togatorop dari Gereja Protestan Indonesia (GPI). Pada periode berikutnya, kepemimpinan dipegang oleh Pdt. Dr. Mukhlis yang mewakili PGLII. Masa kepemimpinannya berlangsung hampir tiga periode karena adanya pandemi COVID-19 yang menyebabkan proses pergantian kepengurusan tertunda.

“Dan saat ini BKGR dipimpin oleh Pdt. Dr. Ricky Nelson Tampubolon yang mewakili PGI,” ujar Pdt. Rikson Sitorus.

Sementara itu, Ketua Umum BKGR Pdt. Dr. Ricky Nelson Tampubolon menjelaskan bahwa tema “BKGR 50 Solid” dipilih bukan sekadar karena usia emas ke-50, melainkan mencerminkan perjalanan panjang persatuan gereja-gereja di Riau yang semakin kuat dari waktu ke waktu.

Menurutnya, kata SOLID memiliki makna mendalam, yaitu Sinergi Oikumene, Layani, Inklusif, dan Dinamis.

“Solid bukan hanya karena usia 50 tahun identik dengan emas yang kuat dan utuh. Tetapi karena kami melihat perjalanan kebersamaan gereja-gereja di Riau yang semakin kokoh. Sinergi oikumene harus terus dibangun dalam keberagaman yang ada,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa BKGR ingin menghadirkan pelayanan yang inklusif, merangkul semua pihak tanpa memandang perbedaan denominasi, sekaligus mendorong gerakan yang dinamis demi kemajuan pelayanan gereja di Riau.

Dalam rangka HUT ke-50, BKGR telah melaksanakan berbagai kegiatan sosial yang melibatkan gereja-gereja di Pekanbaru maupun daerah lainnya di Provinsi Riau.

“Kami telah melaksanakan bakti sosial, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, gotong royong bersama gereja-gereja, serta penyerahan sapi kurban kepada masyarakat melalui Pemerintah Kota Pekanbaru,” jelasnya.

Menurut Pdt. Ricky, berbagai kegiatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa persatuan gereja tidak hanya diwujudkan dalam pertemuan atau ibadah bersama, tetapi juga melalui aksi sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, BKGR semakin aktif menghadirkan kegiatan berskala besar yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satunya adalah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) bersama Polri di kawasan Rumbai serta KKR Paskah Wanita yang mendapat sambutan luas dari jemaat.

“Kesimpulan yang kami lihat adalah kebersamaan gereja-gereja di Riau semakin solid. Itu bukan sekadar slogan, tetapi merupakan kenyataan yang lahir dari perjalanan panjang dan kerja sama yang terus diperkuat,” tutupnya. (AH)