Riau

Tegur Tetangga yang Geber Motor Saat Lebaran, Pria di Pekanbaru Berujung Ditahan Polisi

50
×

Tegur Tetangga yang Geber Motor Saat Lebaran, Pria di Pekanbaru Berujung Ditahan Polisi

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi

PEKANBARU, ALARAM.CO – Seorang pria warga Jalan Riau Baru, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru, bernama Iwan Sabirin Napitu (47), hingga kini masih menjalani penahanan di Polsek Payung Sekaki setelah dilaporkan dalam kasus dugaan pengeroyokan. Peristiwa itu disebut berawal dari teguran terhadap seorang pria yang menggeber-geber sepeda motor di depan rumah mereka saat momen Lebaran.

Syahari, istri Iwan, kepada media pada Kamis, 28 Mei 2026, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut bermula ketika keluarganya sedang berkumpul di rumah. Peristiwa itu terjadi di kawasan tempat tinggal mereka di Jalan Riau Baru, yang masih berada di lingkungan yang sama dengan rumah pria tersebut.

“Waktu itu kami lagi kumpul keluarga di rumah saat Lebaran. Tiba-tiba seorang tetangga lewat naik motor dan menggeber-geber motornya tepat di depan rumah kami,” ujar Syahari.

Menurut Syahari, suaminya merasa terganggu dengan suara berisik yang berasal dari sepeda motor tetangganya itu, Iwan kemudian mendatangi pria tersebut untuk menanyakan maksud dari aksi menggeber motor tersebut.

“Suami saya hanya bertanya baik-baik, kalau memang ada yang tidak suka silakan bilang, jangan seperti itu. Tapi di sana malah terjadi dorong-dorongan,” katanya.

Syahari menyebut situasi kemudian memanas. Ia menuturkan ada pihak yang memprovokasi dengan mengatakan “pukul saja, pukul saja”, sehingga suaminya diduga terpancing emosi dan memukul satu kali.

“Cuma sekali dipukul, tidak berkali-kali. Setelah saya dengar ribut-ribut, saya keluar rumah dan langsung membawa suami saya pulang,” jelasnya.

Namun beberapa waktu setelah kejadian, pihak kepolisian datang menjemput suaminya usai adanya laporan polisi. Syahari mengatakan laporan tersebut dibuat sekitar dua minggu setelah insiden terjadi.

“Kejadiannya hari Sabtu, lalu mereka melapor. Dua minggu kemudian suami saya dijemput polisi dari rumah dan sampai sekarang masih ditahan di Polsek Payung Sekaki,” ungkapnya.

Ia menyebut suaminya ditahan sejak 9 April 2026 dan hingga kini sudah hampir dua bulan menjalani proses hukum.

Dalam laporan tersebut, kata Syahari, suaminya dilaporkan atas dugaan pengeroyokan. Padahal menurutnya, peristiwa yang terjadi tidak seperti yang dilaporkan.

“Yang saya tahu hanya suami saya sendiri di situ. Tapi di laporan disebut pengeroyokan. Seolah-olah seperti direncanakan, padahal tidak begitu kejadiannya,” tuturnya.

Syahari menjelaskan, saat ini ia harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mengantarkan makanan untuk suaminya yang masih berada di tahanan.

“Saya sekarang sendiri yang cari makan. Saya juga harus bolak-balik mengantar nasi untuk suami,” katanya dengan nada sedih.

Upaya perdamaian sebenarnya telah beberapa kali dilakukan pihak keluarga. Syahari mengaku sudah mendatangi rumah pihak pelapor hingga enam kali, sementara keluarga besarnya juga sudah beberapa kali mencoba menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.

Namun, menurutnya, permintaan uang damai yang cukup besar membuat kesepakatan tak kunjung tercapai.

“Awalnya mereka minta Rp70 juta. Setelah ada yang menengahi turun jadi Rp30 juta. Sampai sekarang mereka masih bertahan di angka itu,” ujarnya.

Syahari mengaku tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut karena kondisi ekonomi keluarga mereka juga sangat terbatas.

Ia juga mengungkapkan bahwa pria yang menggeber motor tersebut berinisial CH, sementara laporan polisi dibuat oleh seseorang berinisial J.

Menurut Syahari, sebelum kejadian itu, aksi menggeber motor di depan rumah bukan hal yang sering terjadi. Karena itu, keluarganya menduga tindakan tersebut sengaja dilakukan saat mereka sedang berkumpul merayakan Lebaran.

“Kalau memang setiap hari dia begitu mungkin kami tidak masalah. Tapi ini pas kami lagi kumpul keluarga saat Lebaran,” katanya.

Saat ditanya mengenai kondisi CH setelah kejadian, Syahari mengatakan pria tersebut baik-baik saja bahkan beraktivitas seperti biasa.

Syahari berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan dan tidak berlarut-larut.

“Harapan saya, ya semoga cepat selesai. Kami ini bukan orang berada. Saya cuma ingin masalah ini segera selesai dengan baik,” tutupnya.(AH)