PEKANBARU, ALARAM.CO – Maraknya dugaan praktik mafia bahan bakar minyak (BBM) ilegal di Kota Dumai memicu keresahan serius di tengah masyarakat. Kondisi ini mendorong perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Dumai (GEMPA) mendatangi Mapolda Riau untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mendesak aparat penegak hukum segera mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku.
Dalam aksi penyampaian aspirasinya pada Jumat, (22/5/2026), Koordinator Lapangan GEMPA, Muhammad Erza, didampingi Satria Ramadhan, menegaskan bahwa kehadiran mereka di depan Mapolda Riau merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi yang dinilai semakin meresahkan, tidak hanya bagi masyarakat Kota Dumai, tetapi juga masyarakat di seluruh Provinsi Riau.
“Kami dari perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Dumai hari ini hadir di depan Polda Riau untuk menyuarakan keresahan masyarakat terkait maraknya mafia BBM ilegal di Kota Dumai. Mulai dari permainan di SPBU hingga aktivitas ilegal di sejumlah gudang dan pelabuhan yang ada di Kota Dumai,” ujar Muhammad Erza.
Ia mendesak Kapolda Riau agar segera menindak tegas seluruh pihak yang diduga terlibat dalam praktik mafia BBM ilegal tersebut. Bahkan, pihaknya juga meminta agar Kapolres Dumai dicopot dari jabatannya, karena dinilai tidak menunjukkan respons serius terhadap berbagai laporan dan aspirasi yang telah disampaikan sebelumnya.
“Kami meminta Kapolda Riau agar segera menindak tegas mafia-mafia BBM ilegal ini. Kami juga meminta Kapolres Dumai dicopot, karena sampai hari ini kami melihat Kapolres Dumai terkesan bungkam dan tidak memberikan tanggapan atas persoalan yang kami sampaikan,” tegasnya.
Selain itu, GEMPA juga mengaku telah menyerahkan sejumlah bukti kepada pihak Polda Riau, termasuk dokumentasi dan rekaman hasil investigasi lapangan yang dilakukan oleh rekan-rekan mereka di Dumai.
“Bukti-bukti yang kami miliki sudah kami serahkan secara lengkap kepada pihak Polda Riau, termasuk dokumentasi dari rekan-rekan di Dumai yang melakukan pemantauan menggunakan drone terhadap gudang-gudang BBM. Bahkan, drone yang digunakan sempat ditembak saat melakukan pengambilan gambar. Semua bukti itu sudah kami serahkan melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau,” ungkapnya.
Muhammad Erza menjelaskan, sebelumnya pihaknya juga telah melakukan aksi serupa di Kota Dumai dan menyampaikan aspirasi langsung kepada Polres Dumai. Namun, menurutnya, hingga kini belum ada tindak lanjut nyata dari aparat kepolisian setempat.
“Untuk di Kota Dumai, kami sudah pernah melakukan aksi satu kali. Namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut yang jelas dari pihak kepolisian. Karena itu, kami datang ke Polda Riau agar persoalan ini mendapat perhatian serius,” katanya.
Menurut GEMPA, persoalan mafia BBM ilegal bukan sekadar isu lokal Kota Dumai, melainkan persoalan besar yang berpotensi berdampak pada distribusi BBM di seluruh wilayah Provinsi Riau. Mereka menilai Dumai sebagai salah satu jalur utama distribusi BBM, sehingga apabila praktik ilegal dibiarkan, dampaknya dapat meluas ke berbagai daerah.
“Ini bukan hanya keresahan masyarakat Kota Dumai, tetapi keresahan masyarakat Provinsi Riau. Kita tahu bahwa salah satu pusat distribusi terbesar ada di Kota Dumai. Jika permainan BBM ilegal ini terus berlangsung, dikhawatirkan daerah-daerah lain juga akan terdampak, termasuk potensi kelangkaan BBM,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kondisi di lapangan yang menurutnya menunjukkan indikasi terganggunya distribusi BBM, terlihat dari antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum.
“Kalau kita lihat sekarang di beberapa titik, antrean di SPBU cukup panjang. Yang mengalami antrean itu untuk BBM jenis solar dan Pertalite. Namun yang paling banyak kami temukan berkaitan dengan dugaan penimbunan di gudang-gudang solar dan Pertalite,” tambahnya.
GEMPA menegaskan, apabila tuntutan mereka tidak segera ditindaklanjuti, mereka siap menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar sebagai bentuk tekanan agar aparat penegak hukum bertindak tegas.
“Tadi kami sudah diberikan waktu untuk menyampaikan aspirasi. Jika persoalan ini tidak ditindaklanjuti, kami akan kembali turun dengan aksi yang lebih besar dari hari ini,” tegas Muhammad Erza.
Melalui aksi ini, mahasiswa berharap Polda Riau dapat segera melakukan penyelidikan menyeluruh, menindak para pelaku mafia BBM ilegal tanpa pandang bulu, serta mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum di Provinsi Riau. (AH)












