PEKANBARU, ALARAM.CO — Setelah beberapa hari diselimuti kabut asap, warga Kota Pekanbaru kembali menghirup udara yang lebih baik. Senin (31/8/2026) pagi, kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau terpantau berada dalam kategori baik.
Berdasarkan pemantauan IQAir di Stasiun Tenayan Raya pada pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara atau US AQI tercatat 39 atau kategori Good (Baik). Stasiun pemantauan tersebut tercantum bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Angka tersebut menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan kondisi beberapa hari sebelumnya. Pada 24 Agustus 2026, indeks kualitas udara Pekanbaru berdasarkan IQAir sempat mencapai AQI 214 atau kategori sangat tidak sehat.
Perbaikan mulai terlihat setelah hujan turun di sejumlah wilayah Riau. Pada Minggu (30/8/2026), hujan turut membantu mengurangi konsentrasi polutan dan menipiskan kabut asap di Pekanbaru.
Namun, udara yang mulai membaik tidak membuat penanganan karhutla dihentikan.
Kabid Humas Polda Riau Kombes Akmadi mengatakan, membaiknya kualitas udara merupakan kabar positif bagi masyarakat. Meski begitu, personel gabungan bersama TNI dan seluruh pemangku kepentingan tetap bekerja di lapangan.
“Alhamdulillah, pagi ini masyarakat Pekanbaru bisa kembali merasakan kualitas udara yang jauh lebih baik. Personel di lapangan tetap bekerja melakukan pemadaman, pendinginan dan patroli untuk memastikan api maupun bara tidak kembali muncul,” kata Akmadi.
Menurut Akmadi, perhatian tidak hanya tertuju pada kondisi udara di Pekanbaru, tetapi juga sumber-sumber kebakaran di sejumlah kabupaten yang masih membutuhkan penanganan.
Pasalnya, titik panas masih terdeteksi di Riau. Data BMKG pada Sabtu (29/8/2026) pukul 23.00 WIB masih mencatat 264 hotspot yang tersebar di 11 kabupaten/kota.
“Jadi kami tidak ingin terlena dengan kondisi udara yang membaik pagi ini. Fokusnya tetap sama, tuntaskan pemadaman di lapangan, lakukan pendinginan sampai benar-benar aman, cegah munculnya titik baru dan lindungi masyarakat dari dampak karhutla,” ujar Akmadi.
Polda Riau juga mengingatkan kualitas udara bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi kebakaran, arah angin maupun cuaca. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan hotspot tetap dilakukan secara berkala sebagai bagian dari langkah mitigasi.
Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir turut memberikan dampak positif terhadap kondisi Pekanbaru. Pemerintah Kota Pekanbaru bahkan memutuskan aktivitas belajar mengajar kembali dilakukan secara tatap muka mulai Senin setelah kondisi cuaca dan kualitas udara menunjukkan perbaikan.
Sehari sebelumnya, Pemko Pekanbaru juga melaporkan tidak ditemukan titik api di wilayah Kota Pekanbaru.
Penanganan karhutla turut diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pemerintah menyiapkan pelaksanaan OMC pada periode 29 Agustus hingga 1 September 2026 untuk membantu penanggulangan karhutla di Riau.
Akmadi menegaskan, membaiknya kualitas udara harus menjadi momentum untuk memperkuat pencegahan agar kabut asap tidak kembali menyelimuti Pekanbaru.
“Yang ingin kita jaga bukan hanya bagaimana api bisa dipadamkan hari ini, tetapi bagaimana masyarakat tetap bisa menghirup udara yang sehat pada hari-hari berikutnya. Karena itu upaya di lapangan tetap berjalan dan kewaspadaan tidak boleh turun,” tutupnya. (AH)












