Riau

Bangkit dari Pandemi dan Banjir, Penenun Srikandi Serumpun Kembali Berkarya Berkat Dukungan PHR

14
×

Bangkit dari Pandemi dan Banjir, Penenun Srikandi Serumpun Kembali Berkarya Berkat Dukungan PHR

Sebarkan artikel ini
Alat-alat tenun yang sebelumnya tidak lagi digunakan kini kembali beroperasi dan menjadi ruang produktif bagi para perempuan di Kelurahan Limbungan.

PEKANBARU, ALARAM.CO– Harapan yang sempat tenggelam akibat pandemi Covid-19 dan bencana banjir kini kembali tumbuh di Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur, Kota Pekanbaru. Setelah mengalami masa-masa sulit yang nyaris menghentikan aktivitas produksi, para pengrajin tenun yang tergabung dalam Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang kini kembali bangkit dan produktif berkat dukungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program pengembangan UMKM.

Perjalanan bangkitnya para pengrajin tenun menjadi bukti bahwa semangat untuk melestarikan budaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak pernah padam, meski sempat diterpa berbagai cobaan.

Salah seorang penggerak Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang, Salma Betty (50), mengenang bagaimana pandemi Covid-19 yang melanda sekitar enam tahun lalu membuat aktivitas para penenun terhenti. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan banjir yang melanda kawasan Rumbai pada tahun berikutnya hingga merusak seluruh peralatan produksi.

“Alat tenun, benang, dan berbagai perlengkapan produksi tidak sempat kami selamatkan. Semuanya rusak akibat banjir. Namun dukungan dari PHR menjadi angin segar bagi kami untuk kembali berkarya dan menghidupkan potensi lokal yang sempat nyaris tenggelam,” ujar Salma Betty.

Menurutnya, cobaan yang datang silih berganti tidak menyurutkan semangat para ibu-ibu penenun untuk kembali berkarya. Kini, kelompok yang sempat vakum tersebut telah bangkit dan memiliki 15 anggota aktif yang terus berupaya melestarikan warisan budaya tenun Melayu sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga.

Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menghadirkan program Pengembangan UMKM Ekonomi Pemuda dan Perempuan Crafting. Melalui program tersebut, PHR mengajak kembali para penenun yang sempat berhenti berproduksi, menyelamatkan alat tenun yang masih dapat digunakan, memperbaiki fasilitas produksi, menyediakan benang sebagai bahan baku, serta memberikan pendampingan secara berkelanjutan.

Selain dukungan sarana dan prasarana, PHR juga menggelar pelatihan rutin guna meningkatkan kemampuan para pengrajin. Sejak Juni 2026, anggota Kelompok Tenun Srikandi Serumpun mengikuti pelatihan sebanyak dua kali dalam sepekan. Hingga saat ini telah terlaksana tujuh sesi pelatihan, dengan target keseluruhan sebanyak sepuluh pertemuan.

Salma mengatakan seluruh anggota menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan selalu mengikuti setiap sesi pelatihan. Menurutnya, kegiatan menenun tidak hanya menjadi sarana untuk melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para perempuan di lingkungan tersebut.

“Menenun menjadi ruang bagi kami para ibu untuk terus berkarya dan lebih produktif. Setiap lembar kain yang kami hasilkan membawa harapan besar. Selain menjadi kebanggaan karena melestarikan budaya Melayu, hasil tenun ini juga membuka peluang untuk meningkatkan perekonomian keluarga kami,” ungkapnya.

Secara tidak langsung, Salma menilai dukungan yang diberikan PHR telah membangkitkan kembali optimisme para pengrajin yang sempat kehilangan harapan akibat pandemi dan bencana banjir. Pendampingan yang dilakukan juga mendorong para penenun saling menguatkan dan semakin percaya diri untuk mengembangkan usahanya.

Seiring dengan meningkatnya kemampuan para anggota, Kelompok Tenun Srikandi Serumpun kini mulai menerapkan standar produksi. Setiap alat tenun ditargetkan mampu menghasilkan 15 lembar kain berkualitas yang tetap mempertahankan identitas dan nilai budaya Melayu.

Manager Corporate Social Responsibility (CSR) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan kebangkitan para pengrajin tenun di Kelurahan Limbungan tidak hanya memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian warisan budaya daerah.

“Kebangkitan aktivitas tenun di Limbungan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian warisan budaya di tengah arus modern,” kata Iwan.

Ia menjelaskan bahwa PHR berkomitmen mendukung penguatan identitas budaya lokal agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang. Melalui kolaborasi bersama masyarakat, alat-alat tenun yang sebelumnya tidak lagi digunakan kini kembali beroperasi dan menjadi ruang produktif bagi para perempuan di Kelurahan Limbungan.

Menurut Iwan, keberhasilan membangkitkan kembali aktivitas menenun menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup apabila mendapat dukungan dan dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Sebagai perusahaan yang mengelola Wilayah Kerja Rokan, PHR terus menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berfokus pada bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pelestarian lingkungan. Melalui berbagai program tersebut, perusahaan berupaya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasinya sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan di Provinsi Riau. (AH)