Riau

Bukan Lagi Sekadar Tidak Sehat, Dokter Paru Sebut Udara Riau Sudah Berbahaya

36
×

Bukan Lagi Sekadar Tidak Sehat, Dokter Paru Sebut Udara Riau Sudah Berbahaya

Sebarkan artikel ini
Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi, Dr. dr. Indra Yovi, Sp.P(K).

PEKANBARU, ALARAM.CO – Kondisi kualitas udara di Provinsi Riau dalam beberapa hari terakhir dinilai telah memasuki level berbahaya. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan meningkatkan perlindungan terhadap paparan udara tercemar.

Imbauan tersebut disampaikan dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi (dokter spesialis paru dan pernafasan), Dr. dr. Indra Yovi, Sp.P(K), pada Rabu (26/8/2026).

Indra mengatakan, kondisi kabut asap yang dirasakan masyarakat Riau dalam beberapa pekan terakhir kini menunjukkan konsentrasi kualitas udara yang mengkhawatirkan. Bahkan, menurutnya, kondisi tersebut tidak lagi sekadar berada pada kategori tidak sehat, tetapi sudah mencapai level berbahaya.

“Kalau kita lihat level warnanya itu sudah level warna cokelat, terutama tadi pagi,” kata Indra.

Menurut Indra, kondisi Riau cukup unik. Meski jumlah titik api di Riau disebut tidak sebanyak di Sumatera Selatan dan Jambi, arah angin dalam beberapa pekan terakhir membuat asap dari wilayah tersebut bergerak menuju Riau.

“Sehingga kita bukan cuma terkena dampak dari asap kebakaran di wilayah kita sendiri, juga dampak asap kebakaran dari wilayah tetangga kita,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Indra, sangat mengkhawatirkan dari sisi kesehatan. Ia meminta masyarakat, khususnya yang berada di daerah terdampak kabut asap, memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki aplikasi untuk memantau kualitas udara, kondisi tersebut salah satunya dapat diperkirakan melalui jarak pandang. Jika jarak pandang kurang dari satu kilometer, kondisi konsentrasi udara diperkirakan sudah sangat tidak sehat.

“Kalau makin pendek, misalnya kayak tadi pagi 500 meter, itu kondisi udara, konsentrasi udaranya berbahaya,” jelasnya.

Karena itu, Indra meminta masyarakat tidak keluar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak. Rumah juga dianjurkan dalam kondisi tertutup dengan memastikan pintu, jendela, dan ventilasi tidak menjadi jalur masuknya udara tercemar.

Namun, apabila terpaksa harus keluar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker, terutama jenis N95. Menurut Indra, masker tersebut dapat menyaring partikulat yang terdapat dalam asap kebakaran hutan dan lahan.

Ia menjelaskan, asap kebakaran mengandung sejumlah komponen yang berbahaya bagi saluran pernapasan, di antaranya ozon, partikulat PM2,5, nitrogen, dan karbon monoksida.

“Masker N95 namanya. Di zaman COVID ada itu, maskernya lebih tebal, dan itu bisa menyaring partikulat,” katanya.

Jika N95 sulit diperoleh karena keterbatasan ketersediaan maupun biaya, Indra menyarankan masyarakat setidaknya menggunakan masker bedah tiga lapis. Meski tidak seefektif N95, penggunaan masker tersebut dinilai dapat mengurangi risiko paparan.

Selain perlindungan dari luar, masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan cairan. Indra menyebut kondisi udara yang kering dapat membuat saluran pernapasan menjadi kering.

Ia juga menganjurkan konsumsi vitamin C sebagai sumber antioksidan. Menurutnya, paparan udara tercemar dapat meningkatkan radikal bebas yang berpotensi memicu peradangan, terutama peradangan kronis pada saluran pernapasan.

“Yang paling penting adalah sambil kita menunggu teman-teman kita, TNI, Polri, Manggala Agni, membersihkan atau membereskan, memadamkan api-api di tempat-tempat yang terbakar, kita mencegah supaya dampak kesehatannya tidak muncul kepada kita,” ujarnya.

Kelompok Rentan Diminta Lebih Waspada

Indra menjelaskan, gangguan pada saluran pernapasan menjadi salah satu dampak yang perlu diwaspadai akibat paparan kabut asap. Gejala awal yang paling sering muncul antara lain infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), radang tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga tenggorokan terasa kering.

Risiko tersebut dinilai lebih tinggi bagi kelompok rentan. Ia menyebut bayi, anak-anak di bawah lima tahun, remaja, dan lanjut usia sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Selain itu, masyarakat yang memiliki penyakit paru sebelumnya, termasuk penderita asma dan tuberkulosis (TBC), juga diminta menghindari aktivitas di luar rumah karena risikonya lebih tinggi.

“Pada yang risiko tinggi ini diharapkan tidak melakukan aktivitas di luar rumah,” tegasnya.

Indra juga mengingatkan masyarakat yang masih melakukan olahraga di luar ruangan, seperti jogging pada pagi hari atau bersepeda pada sore hari, agar menghentikan sementara aktivitas tersebut selama kondisi udara masih buruk.

Menurutnya, menggunakan masker saat berolahraga di luar ruangan bukan berarti menghilangkan risiko. Aktivitas olahraga dalam kondisi udara tercemar justru dapat meningkatkan risiko terhadap sistem pernapasan.

“Jadi sebenarnya sabar dulu. Kalau memang seandainya harus berolahraga, terbiasa berolahraga dengan kondisi lingkungan seperti ini, di dalam rumah saja, indoor saja,” katanya.

Ia menyarankan masyarakat yang tetap ingin berolahraga untuk melakukannya di dalam rumah dengan berbagai aktivitas olahraga sederhana.

Petugas Pemadam Juga Perlu Perlindungan Kesehatan

Selain mengingatkan masyarakat, Indra memberikan apresiasi kepada para petugas yang saat ini berjibaku memadamkan kebakaran. Ia menilai kesehatan para petugas juga perlu menjadi perhatian bersama karena mereka berada langsung di wilayah yang terdampak asap dan api.

Indra mengingatkan adanya pengalaman pada periode 2015–2019 ketika terdapat petugas yang menjadi korban saat menjalankan tugas pemadaman.

Karena itu, ia mengimbau pemerintah daerah di wilayah tempat petugas melakukan pemadaman untuk mendirikan posko kesehatan.

“Posko kesehatan dengan kecukupan, ada oksigen di situ, kemudian ada obat-obat yang diperlukan bila mereka tiba-tiba ada sesak dan sebagainya, sehingga mereka juga kita lindungi bersama-sama,” ujarnya.

Menurut Indra, perlindungan kesehatan tersebut penting diberikan kepada petugas yang telah berkorban dalam upaya memadamkan kebakaran.

Ia menegaskan, di tengah upaya pemadaman yang dilakukan TNI, Polri, Manggala Agni, dan pihak terkait lainnya, masyarakat juga perlu mengambil langkah pencegahan agar dampak kesehatan akibat kabut asap dapat diminimalkan.(AH)