PEKANBARU, ALARAM.CO – Pengurus Panti Asuhan Yerahmeel, Mangaratua Nainggolan, S.Th, membantah pemberitaan MataXpost.com terkait dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan panti. Ia menilai pemberitaan tersebut merugikan reputasi yayasan, berdampak terhadap kondisi psikologis anak-anak asuh, serta menyebabkan penurunan bantuan donasi.
Bantahan itu disampaikan Mangaratua menanggapi pemberitaan MataXpost.com pada 9 Agustus 2026 berjudul “Dugaan Kekerasan Terhadap Anak di Panti Yerahmeel, SATU GARIS Minta Wali Kota Pekanbaru Turun Tangan”.
Kepada media Alaram.Co, Sabtu (10/10/2026), Mangaratua menjelaskan keributan yang terjadi pada 7 Agustus 2026 malam bermula dari dugaan pelemparan ke rumah panti. Ia menegaskan anak yang disebut terlibat dalam kejadian tersebut bukan anak asuh Panti Asuhan Yerahmeel, melainkan warga setempat.
Menurut Mangaratua, saat itu dirinya baru masuk ke kamar pengurus setelah anak-anak panti menyelesaikan aktivitas malam. Tiba-tiba terdengar suara benturan keras yang membuat penghuni terkejut, termasuk anak-anak balita.
Ketika ditanya, sejumlah anak menyebut Andreas Putra Louis sebagai orang yang diduga melakukan pelemparan. Mangaratua kemudian meminta lima anak memanggil Andreas untuk meminta penjelasan. Ia mengaku telah mengingatkan mereka agar tidak mendatangi rumah Andreas, melainkan memanggilnya dari jarak sekitar 20 meter.
Namun, menurut keterangannya, Andreas tidak bersedia menemui mereka. Setelah anak-anak kembali ke panti, Andreas disebut datang ke lingkungan panti sehingga terjadi adu mulut yang kemudian berkembang menjadi keributan.
Mangaratua menuding Andreas melakukan pemukulan dan penendangan terhadap beberapa anak panti. Ia juga menuding ibu Andreas menjambak salah seorang anak dan melontarkan kata-kata kasar. Mangaratua mengaku tidak berada tepat di lokasi ketika keributan berlangsung dan baru keluar setelah mendengar keributan.
Ia menyebut kedua pihak kemudian membuat laporan ke kepolisian pada malam yang sama. Mangaratua membantah tuduhan bahwa anak-anak panti mengeroyok Andreas di rumahnya. Ia mengaku memiliki rekaman video yang menurutnya dapat membantu menjelaskan kronologi kejadian.
Mangaratua mengatakan Dinas Sosial Kota Pekanbaru telah mendatangi Panti Asuhan Yerahmeel untuk melihat langsung kondisi di lapangan setelah persoalan tersebut mencuat. Menurutnya, kunjungan itu memberikan hasil positif bagi pihak panti. Ia juga menyatakan Dinas Sosial telah menyampaikan keterangan melalui media sosial yang, menurut pemahamannya, membantah informasi yang beredar mengenai panti.
“Dinas Sosial sudah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi kami. Dari hasil kunjungan itu, menurut keterangan yang kami terima, kondisi anak-anak baik-baik saja. Karena itu, kami berharap MataXpost.com dapat melakukan klarifikasi,” kata Mangaratua.
Ia meminta media tersebut mengklarifikasi pemberitaan yang dinilainya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Mangaratua menyebut persoalan itu telah berlangsung sekitar dua bulan dan mengaku dampaknya terasa pada bantuan donasi yang diterima panti.
Menurutnya, setelah informasi mengenai persoalan tersebut beredar, bantuan dari donatur menurun sehingga pihak panti mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan anak-anak, termasuk biaya pendidikan.
Mangaratua menyatakan Panti Asuhan Yerahmeel mengasuh 39 anak berusia sekitar satu hingga 18 tahun. Ia menegaskan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama yayasan.
Ia menyebut anak-anak asuhnya bersekolah di sejumlah lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta. Menurutnya, pihak panti berupaya memberikan pendidikan yang berkualitas demi masa depan anak-anak, meskipun kondisi keuangan mereka menghadapi kesulitan.
“Warisan bagi anak-anak panti bukan emas atau perak, melainkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan melalui pendidikan. Itulah visi kami,” ujarnya.
Mangaratua menyatakan telah meminta MataXpost.com mengklarifikasi pemberitaan tersebut dalam waktu 2 x 24 jam. Ia juga menyampaikan akan menempuh jalur hukum apabila permintaannya tidak ditindaklanjuti.
Selain mempersoalkan pemberitaan MataXpost.com, ia menyinggung sejumlah unggahan media sosial yang menurutnya turut merugikan reputasi panti. Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan persoalan sebelum seluruh keterangan dan bukti diperiksa.
Mangaratua juga mengaku telah melaporkan persoalan terkait pemberitaan tersebut kepada Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau. Ia mengatakan laporan itu telah berjalan sekitar satu bulan, tetapi belum memperoleh kejelasan yang diharapkan.
Ia berharap kepolisian segera menindaklanjuti laporan tersebut sesuai ketentuan hukum agar persoalan dapat diselesaikan dengan baik.
“Kami berharap anak-anak tetap merasa aman dan nyaman di lingkungan panti. Jangan sampai mereka ikut menanggung dampak dari persoalan ini. Kami meminta agar laporan kami segera ditindaklanjuti,” tutupnya.
Keterangan mengenai kronologi keributan, dampak pemberitaan, dan hasil kunjungan Dinas Sosial dalam berita ini merupakan penuturan Mangaratua Nainggolan. Pernyataan resmi Dinas Sosial, tanggapan MataXpost.com, serta keterangan pihak lain yang terlibat masih diperlukan untuk memastikan seluruh informasi secara berimbang. (AH)












